Sejarah Kekaisaran Rusia – Setelah runtuhnya Kievan Rus dan berabad-abad berada di bawah pengaruh Polandia-Lituania, wilayah Ukraina perlahan-lahan tersedot ke dalam orbit kekuasaan Kekaisaran Rusia (Tsardom Rusia yang kemudian menjadi Kekaisaran Rusia). Proses ini dimulai sejak Perjanjian Pereyaslav pada tahun 1654, di mana para Cossack Ukraina meminta perlindungan Tsar Rusia untuk melawan Polandia.
Namun, aliansi yang awalnya dikira sebagai kemitraan setara ini berubah menjadi proses asimilasi paksa, represi budaya, dan rekayasa identitas yang masif. Selama berabad-abad, Kekaisaran Rusia menjalankan strategi sistematis untuk melebur identitas Ukraina ke dalam satu identitas tunggal: Rusia Raya.
Begini cara Kekaisaran Rusia mengubah—dan mencoba menghapus—identitas Ukraina:
1. Narasi “Tiga Bangsa Rusia” dan Doktrin Malorossiya
Untuk melegitimasi pencaplokan wilayah Ukraina, para ideolog Kekaisaran Rusia menciptakan teori resmi tentang bangsa Slavia. Menurut doktrin ini, hanya ada satu bangsa Rusia yang terbagi menjadi tiga cabang:
- Rusia Raya (Velikorossiya): Suku Rusia modern (dianggap sebagai saudara tua pemimpin).
- Rusia Putih (Belorossiya): Suku Belarusia modern.
- Rusia Kecil (Malorossiya): Suku Ukraina modern.
Dengan melabeli Ukraina sebagai “Rusia Kecil”, Kekaisaran Rusia secara psikologis dan politik memposisikan budaya dan bahasa Ukraina sebagai versi “daerah” atau “pedesaan” yang inferior dari budaya Rusia yang “superior” di Moskow dan St. Petersburg. Identitas nasional Ukraina dianggap tidak eksis secara mandiri.
2. Pemberangusan Otonomi Cossack dan Penghancuran Zaporozhian Sich
Sebelum dicaplok sepenuhnya, Ukraina memiliki wilayah otonom yang demokratis dan semi-militer yang dipimpin oleh kaum Cossack (Hetmanat). Kaum Cossack adalah simbol kebebasan, keberanian, dan identitas politik unik Ukraina.
Ratu Rusia, Catherine yang Agung (Catherine II), melihat otonomi ini sebagai ancaman bagi sentralisasi kekaisarannya. Pada tahun 1775, ia memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan Zaporozhian Sich—benteng pertahanan utama dan jantung spiritual Cossack Ukraina.
Sistem kepemimpinan Hetmanat dihapus, tanah-tanah subur Ukraina dibagikan kepada bangsawan Rusia, dan kaum petani Ukraina yang sebelumnya bebas dipaksa masuk ke dalam sistem Serfdom (perbudakan tanah) khas Rusia.
3. Larangan Bahasa: Nilskov Circular dan Ems Ukaz
Salah satu pilar terkuat dari identitas sebuah bangsa adalah bahasanya. Sadar akan hal ini, Kekaisaran Rusia melancarkan sensor bahasa yang sangat agresif pada abad ke-19, ketika nasionalisme Ukraina mulai bangkit lewat sastra (dipelopori oleh penyair nasional Ukraina, Taras Shevchenko).
Dua dekrit kekaisaran yang paling mematikan bagi budaya Ukraina adalah:
- Valuyev Circular (1863): Menteri Dalam Negeri Rusia, Pyotr Valuyev, mengeluarkan surat edaran yang melarang penerbitan buku-buku agama, pendidikan, dan sains dalam bahasa Ukraina. Valuyev dengan angkuh menyatakan: “Bahasa Ukraina tidak pernah ada, tidak ada hari ini, dan tidak akan pernah ada.”
- Ems Ukaz (1876): Ditandatangani oleh Tsar Alexander II, dekrit ini memperluas larangan secara total. Bahasa Ukraina dilarang digunakan dalam pertunjukan teater, lirik lagu, ceramah publik, dan impor buku berbahasa Ukraina dari luar negeri. Bahkan, memprioritaskan mengajar anak-anak dalam bahasa Ukraina di sekolah dianggap sebagai tindakan makar.
Akibatnya, bahasa Ukraina dipaksa turun kasta menjadi sekadar dialek lisan para petani di desa-desa, sementara bahasa Rusia menjadi bahasa wajib untuk kelas atas, pendidikan, pemerintahan, dan kemajuan karier (proses Russifikasi).
4. Represi Terhadap Gereja Ortodoks Ukraina
Identitas spiritual juga menjadi target. Selama berabad-abad, Metropolitan (pusat keagamaan) Kiev berada di bawah yurisdiksi Patriarkat Ekumenis Konstantinopel dan memiliki tradisi liturgi yang lebih terbuka.
Pada tahun 1686, melalui tekanan politik dan suap, yurisdiksi atas Gereja Ukraina dipindahkan ke Patriarkat Moskow. Sejak saat itu, gereja di Ukraina dipaksa mengikuti ritus Rusia. Khotbah-khotbah harus disampaikan dalam bahasa Rusia, sejarah lokal Ukraina dihapus dari narasi gereja, dan institusi agama diubah menjadi alat propaganda Tsar untuk mengkhotbahkan kesetiaan kepada Kekaisaran Rusia.
5. Rekayasa Demografi dan Kolonisasi “Novorossiya”
Setelah merebut wilayah selatan dan timur Ukraina dari Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada akhir abad ke-18, Catherine yang Agung menamai wilayah tersebut sebagai Novorossiya (Rusia Baru).
Pemerintah kekaisaran kemudian menjalankan program kolonisasi besar-besaran. Mereka memindahkan ratusan ribu petani etnis Rusia ke wilayah subur tersebut dan mendirikan kota-kota baru seperti Odessa, Kherson, Mykolaiv, serta wilayah industri Donbas. Rekayasa demografi ini sengaja dilakukan untuk mencairkan konsentrasi populasi etnis Ukraina dan memastikan wilayah tersebut memiliki keterikatan budaya yang kuat dengan Moskow.
Dampak Jangka Panjang: Luka Sejarah yang Belum Sembuh
Upaya Kekaisaran Rusia selama ratusan tahun ini berhasil memecah lanskap identitas Ukraina. Wilayah Ukraina Timur dan Selatan menjadi sangat ter-Russifikasi secara bahasa dan budaya, sementara wilayah Ukraina Barat (yang sempat berada di bawah Kekaisaran Austria-Hungaria dan luput dari Russifikasi ekstrem) tetap mempertahankan bahasa dan kesadaran nasional Ukraina yang murni.
Meskipun Kekaisaran Rusia runtuh pada tahun 1917, proyek pengubahan identitas ini nantinya diteruskan dengan cara yang lebih brutal oleh rezim Uni Soviet (seperti peristiwa kelaparan buatan Holodomor).
Krisis, ketegangan, dan perang yang terjadi antara Ukraina dan Rusia hari ini pada dasarnya adalah kelanjutan langsung dari konflik identitas ini: perjuangan Ukraina untuk melepaskan diri sepenuhnya dari belenggu “Rusia Kecil” dan menegaskan kembali jati diri mereka sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh.

